Merantau: Kalau memang ingin pergi, apakah ada niat untuk kembali?

“Mudik, nggak?”

Pertanyaan paling umum di minggu ini. Ketika semua sudah selesai berlomba-lomba berburu tiket pulang ke kampung halaman, terutama setelah beberapa tahun terakhir dicegah Corona untuk melakukan perjalanan. Teman-teman yang merantau tentunya sudah sibuk membayangkan Lebaran di rumah bersama keluarga. Ah, akhirnya ngumpul lagi. 

Kecuali satu.

Sebut saja namanya Mawar. Merantau ke Jakarta untuk kuliah. Satu setengah dekade kemudian, masih betah di Jakarta. “Mudik? Jakarta ini rumah gue kok,” jawabnya cuek waktu saya tanya pertanyaan paling umum plus paling efektif buat basa basi itu di atas. Padahal sudah jelas kalau Mawar ini tinggal di apartment yang dicicilnya, dan semua keluarganya masih ada di pulau seberang.

“Nggak kangen sama orang tua?”

“Oh, mereka yang ke sini. Lebih murah juga tiketnya. Plus bisa jalan-jalan di Jakarta.”

Photo by Marcelo Moreira on Pexels.com

Mawar bukan satu-satunya. Saya juga pernah mengalami hal yang sama dulu ketika harus kembali ke tanah air dari kuliah di negeri seberang. Beberapa tahun pertama sulitnya beradaptasi kembali dengan budaya Indonesia membuat saya ingin ‘mudik’ saja ke negara asing tersebut. Rasanya saya kok merantau ke negeri sendiri. Semuanya asing. Cara berbicara, tata krama, kesopanan dan cara berpikir, semuanya beda. Pas pergi kuliah culture shock, pas pulang culture shock juga. Mawar juga kayaknya sih begitu. 

“Nggak kangen sama makanan?”

Mawar tergelak mendengar pertanyaan saya. Memang yang paling berat itu makanan. Dan Makanan juga yang membuat saya bertahan di Indonesia. Yang namanya Pempek itu tidak ada lawannya. Meskipun sekarang saya menyambut gembira adanya Starbucks, Cold Stone dan Taco Bell. Homesick-nya jadi bisa berkurang. Tapi Mawar ternyata punya pengalaman berbeda.

“Gue nggak doyan soto-soto-an gitu. Kayak gulai, pindang, opor. Rasanya tajam banget.”

“Jadi, makanan kesukaan lo apa?”

Dia berpikir sejenak.

“Sushi.”

GIliran saya yang ngakak.

Obrolan random sama Mawar, di sebuah restoran sushi tentunya, membuat saya berpikir lagi. Apakah mereka yang pergi merantau ini, mengadu nasib di kota lain, pernah khawatir kalau mereka jadi tidak ingin pulang? Bagaimana kalau jadi jatuh cinta dengan kota tujuan? Seperti saya. Seperti Mawar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s